Home > Berita Kesehatan, Pasien, Rumah Sakit > Pelayanan Rumah Sakit Belum Maksimal

Pelayanan Rumah Sakit Belum Maksimal

PELAYANAN yang cepat dan tepat, biaya pengobatan yang murah, serta sikap tenaga medis yang ramah dan komunikatif adalah sebagian dari tuntutan pasien terhadap pelayanan rumah sakit (RS) dewasa ini. Sayangnya, tidak semua RS di dalam negeri memenuhi tuntutan tersebut.

Cerita mengenai buruknya pelayanan di RS pun masih sering terdengar. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat beralih ke RS-RS di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan negara lainnya. Tercatat, saat ini terdapat kurang lebih 200 ribu pasien Indonesia berobat ke Singapura dan Malaysia, dengan total dana yang dihabiskan mencapai US$600 juta per tahun (sekitar Rp5,4 triliun).

Saat menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Adib A Yahya menyatakan sebenarnya setiap rumah sakit di Indonesia terikat dengan peraturan mengenai standar mutu layanan yang harus dipenuhi RS.

”Standar itu tercantum dalam peraturan yang dikeluarkan Depkes (Departemen Kesehatan). Selain itu, kita juga memiliki Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), sebuah lembaga independen di bawah Departemen Kesehatan (Depkes) yang bertugas mengakreditasi setiap RS secara berkala agar mutu pelayanannya sesuai standar,” jelas Adib pada Media Indonesia, Senin (26/11) di Jakarta.

Namun diakui Adib, belum semua RS memenuhi keseluruhan standar mutu layanan yang telah ditetapkan. Hal itu bisa terjadi karena berbagai alasan. Misal karena keterbatasan tempat tidur serta sumber daya manusia yang dimiliki RS.

Sebaliknya, pasien juga sering kali tidak memahami kondisi dan kendala RS dalam memberikan pelayanan. ”Pasien tahunya ingin dilayani secara cepat, tepat, ramah, dan murah. Karena kondisi yang tidak klop itu, muncullah keluhan-keluhan pasien,” imbuh Adib.

Punya asuransi

Ketika menyinggung soal biaya pengobatan yang kerap kali memberatkan pasien, Adib menuturkan idealnya seluruh pembiayaan kesehatan dilakukan melalui asuransi seperti yang diterapkan di negara-negara maju. Dengan demikian, tidak ada lagi sengketa antara pasien dan rumah sakit soal biaya perawatan/pengobatan.

Saat ini, menurut Adib, sistem kesehatan Indonesia sedang mengarah ke sistem asuransi tersebut. ”Jadi nantinya, soal biaya, pasien berurusan dengan pihak asuransi atau RS-nya yang berhubungan dengan pihak asuransi. Hubungan RS dengan pasien hanya antara pemberi dan penerima layanan kesehatan,” lanjut Adib.

Dengan asuransi, lanjut Adib, masyarakat akan terhindar dari beban berat saat harus membayar biaya pengobatan yang mahal. Misalnya ketika harus menjalani operasi-operasi maupun pengobatan yang cukup berat.

Namanya sakit kan tidak pernah direncanakan, biasanya datang tiba-tiba sehingga banyak yang tidak siap,” ujar Adib.

Perasaan aman memegang asuransi kesehatan diakui Yanti, 42. Ia menuturkan sudah hampir setahun ikut asuransi kesehatan. Biaya premi Yanti dan suaminya ditanggung perusahaan. Sementara itu, premi untuk ketiga anaknya dibiayai secara pribadi.

”Saya sangat tertolong dengan ikut asuransi. Bulan lalu anak bungsu saya mendadak sakit di persendian kakinya hingga tidak bisa berjalan. Ketika berobat ke RS dokter langsung bilang harus dirawat inap,” ujar Yanti.

Setelah mendapat kamar, lanjut pegawai di sebuah perusahaan swasta itu, ia langsung mengurus ke bagian administrasi dan menyerahkan kartu anggota kepesertaan asuransi kesehatan.

Selama empat hari dirawat saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Pulangnya cuma disuruh tanda tangan,” kata Yanti.

Saat dihubungi secara terpisah, Chief of Officer Corporate PT AJ Central Asia Raya (CAR) Ali Mustaqin mengatakan asuransi kesehatan sangat bermanfaat untuk meringankan beban biaya pengobatan dan perawatan kesehatan.

Tidak seorang pun yang berencana sakit. Tetapi yang namanya penyakit, seperti halnya bencana, biasanya datang tiba-tiba. Asuransi merupakan salah satu jalan terbaik untuk mengantisipasinya,” jelas Ali.

Untuk keperluan tersebut, lanjut Ali, CAR memiliki produk bernama Prevensia. Prevensia adalah produk asuransi kesehatan yang ditujukan menjamin biaya kesehatan para karyawan perusahaan (korporasi). Produk ini mengover hampir seluruh jenis perawatan kesehatan. Mulai biaya rawat inap, rawat jalan, kaca mata, pengobatan gigi, hingga melahirkan.

‘Prevensia membantu perusahaan menetapkan alokasi anggaran kesehatan dalam jumlah tetap bagi karyawannya. Sedangkan bagi karyawan, Prevensia akan meringankan beban mereka ketika harus membayar biaya pengobatan yang mahal,” imbuh Ali. (Nik/S-4)

(Media Indonesia, 14 Desember 2007)

  1. junaidin
    October 21, 2009 at 9:50 am

    ass, mhn di tampilkan juga budaya organisasi/ budaya kerja rumah sakitnya agar kita tahu dimensi pelayanan bermutu yang kurang baik itu dari segi apa…. makasih

  2. April 5, 2010 at 9:40 am

    pelayanan RS yang saya rasakan selama ini, masih banyak RS yang melupakan hak-hak seorang pasien. dan sayangnya, pasien atau keluarganya tidak berani melaporkan manakala hak2nya tersebut dilanggar. Nice info

    salam,
    Bolehngeblog

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: