Home > Hikmah > Pemimpin gembelengan

Pemimpin gembelengan

pemimpin-koruptor.jpg

Gundul gundul pacul gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi selatar

Tembang itu masih terngiang di telingaku, seakan baru semalam kami lantunkan bersama kawan bermainkku. Di malam yang bermandikan sinar bulan purnama, kedipan genit sang bintang dan sentuhan lembut angit malam. Kami duduk melingkar saling bergandeng tangan dengan ceria melantun tembang gundul gundul pacul.

Sebuah tembang Jawa yang konon merupakan warisan Wali Songo dan biasa dilantunkan anak-anak kecil ketika dolanan di malam hari. Sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. Terkesan tidak menggurui tetapi mengena di hati.

Gundul gundul pacul gembelengan. Menggambarkan seorang anak yang plontos kepalanya, nakal, bandel, cengegesan, slengekan dan tak bertanggung jawab. Dia tidak menyadari siapa sesungguhnya dirinya, tidak dapat memisahkan hitam putihnya hidup dan mencampuradukan hak kewajibannnya. Sang anak tidak mencoba melihat dengan sudut pandang yang lebih luas dan menganggap dirinya yang paling benar sehingga pantas dia itu gembelengan, sombong dan tak tahu diri.

Nyunggi nyunggi wakul gembelengan. Wakul, sebuah tempat untuk menyajikan nasi yang biasa tersaji di meja-meja makan masyarakat Jawa, melambangkan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. Bahkan sang anak masih tetap cengengesan, bandel dan tak peduli ketika diatas kepalanya, ia harus nyunggi wakul. Rasa memiliki dan rasa tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, dianggap angin lalu belaka, semua terasa tak berharga. Dan lagi-lagi tetap gembelengan, meskipun dia memikul amanah kesejahteraan dan keadilan.

Wakul ngglimpang segane dadi selatar. Tumpahlah wakul itu dan nasinya tersebar di halaman rumah. Akibat rasa sombong, ceroboh dan kianat itulah, kesejahteraan dan keadilan yang semestinya jadi tanggung jawabnya menjadi tidak pernah tergapai. Bahkan hancur berantakan dan menjadi santapan semut-semut yang memang selalu berharap tumpahnya wakul itu. Kepercayaan dan tanggung jawab yang diamanahkan kepada gundul pacul, tidak akan pernah ditunaikan dengan benar.

Jika kesombongan dan selalu ingin menonjolkan diri masih ada disetiap pemimpin, maka bersiaplah untuk mengubur cita-cita luhur bangsa ini. Kalau ingin selalu menang dan merasa benar sendiri itu selalu menjadi pakaian para tokoh bangsa ini, maka tidak akan ada kenyataan Indonesia bangkit dan tegak sebagai sebuh bangsa yang berdaulat. Dan andaikan kesabaran, kebesaran jiwa dan ketulusan hati dari anak-anak bangsa ini sudah luntur, maka jangan berharap lebih pemilu akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi rakyat Indonesia. Semoga!

Categories: Hikmah Tags: , , , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: